| Tekanan shut-in | Drill Collar | Drill Pipe | Kick | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Drill Pipe (psi) | Casing (psi) | Kapasitas annular (bbl/ft) | Panjang (ft) | Volume annular (bbl) |
|
Volume (bbl) | Panjang (ft) | Density (lb/gal) | Jenis kick | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| No. Lap | Nama Rig | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| 2a | TEP-1000 | 9 | 370 | 300 | 0,0292 | 9 | 0,2628 | 0,1198 | 1355,1538 | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| 2b | TEP-X | 15 | 780 | 1044 | 0,02914 | 450 | 13,113 | 0,0459 | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Jumat, 26 Juni 2015
excel
pengujian sumur
Pengujian
Sumur X Lapangan Y dengan Menggunakan Metode
Pressure Build Up Test
dan Modified Isochornal Test
PT.Pertamina
EP Region Sumatera

TUGAS
AKHIR
Dibuat
Untuk Memenuhi Syarat Mendapatkan Gelar Diploma III
Pada
Program Studi Teknik Eksplorasi Produksi Migas
Politeknik
Akamiga Palembang
Oleh
:
Farad
Loreansyah Kumar NPM. 0903015
PROGRAM
STUDI TEKNIK EKSPLORASI PRODUKSI MIGAS
POLITEKNIK
AKAMIGAS PALEMBANG
AGUSTUS
2012
LEMBAR
PENGESAHAN
TUGAS
AKHIR
PENGUJIAN
SUMUR X LAPANGAN Y DENGAN MENGGUNAKAN
METODE
PRESSURE BUILD UP TEST DAN MODIFIED
ISOCHORNALTEST DI PT. PERTAMINA EP REGION SUMATERA
Dibuat
Untuk Memenuhi Syarat Mendapatkan Gelar Diploma III
Pada
Program Studi Teknik Eksplorasi Produksi Migas
Politeknik
Akamigas Palembang
Oleh
:
FARAD
LORENSYAH KUMAR NPM. 0903015
Pembimbing
I
Ir.
Raam Krisna
Ketua Program Studi
Tek. Eksplorasi Migas
Ana
Asmina, ST.
Palembang, Agustus 2012
Pembimbing II
K.
Moh.Ade Isnaeni, ST
Direktur
Politeknik Akamigas Palembang
H.
Muchtar Luthfie, SH.,MM
HALAMAN PERSETUJUAN
Judul Tugas Akhir : Pengujian Suatu
Sumur X Lapangan Y dengan menggunakan
Metode Pressure build Up Test dan Modified Isochornal Test Di Pertamina EP
Region Sumatera
Nama Mahasiswa / NPM : Farad Lorensyah Kumar / NPM
: 0903015
Program
Studi :
Teknik Eksplorasi Produksi Migas
Telah
di Uji dan Lulus Pada :
Hari :
Tanggal :
Tim
Penguji :
Nama jabatan
1.
Ir. Raam Krisna Ketua ( )
2.
K.Moh.Ade Isnaeni Sekretaris ( )
3.
Budi Kuswan Susilo, ST,MT Penguji I ( )
4.
Ir. Ekarizal,MM Penguji
II ( )
5.
Azka Roby Antari,ST Penguji
III ( )
Palembang,
Ketua Program Studi,
Teknik Eksplorasi Produksi Migas
Ana Asmina, ST
ABSTRAK
PENGUJIAN SUATU SUMUR X DENGAN MENGGUNAKAN METODE
PRESSURE BUILD (PBU) TEST dan MODIFIED ISOCHORNAL (MIT)
TEST DI PERTAMINA IP REGION SUMATERA
|
|
Kegiatan pengujian sumur merupakan hal yang sangat
penting dilakukan guna mengetahui kemapuan suatu reservoir berpoduksi melalui
sumur produksinya. Dalam pengujian sumur X lapangan Y dilakukan pengujian sumur
menggunakan metode PBU (metode
) dan MIT. Hasil dari
metode PBU akan didapat nilai seperti permeabilitas, faktor skin, penurunan terhadap skin, dan aliran
effisien. Pada hasil PBU terlihat pengaruh yang terjadi, sumur X mengalami
kerusakan formasi dengan ditunjukan dengan hasil skin yang positif sehingga sumur X harus dilakukan
stimulasi ( Acidizing). Dan ada metode MIT akan terlihat
seberapa besar produksi sumur tersebut dengan ditunjukan dari hasil AOFP yang
di dapatkan.
Kata Kunci :
Pengujian Sumur, Pressure Build Up dan
Modified Isochornal Test
ABSTRACT
TESTING
OF WELL X
FEILD Y WITH METHOD PRESSURE
BUILD UP (PBU) TEST
AND MODIFIED
ISOCHORNAL (MIT) TEST
IN PERTAMINA EP REGION SUMATERA
|
|
Well testing activities is very important to determine the ability of a reservoir berproducion through production wells.The test wells X In theY, well tested usingteh method of PBU ( method p2)and MIT. Before entering into the first PBU method to calculate pressure gradient wells X to see where the wells containing the oil, gas or even water. Then for PBU method will be obtained after the calculation of values such as permaebility,skin factor, a factor, a decrease of the skin, and afficient flow. PBU visible influence on the outcome of the case, where the X wells were damaged by the formation indicated by the results of a positive skin so X must be done well stimulation (Acidizing). And the MIT method will be seen how big the production wells with indicated from the result obtained AOFP.
Keywords : Well Testing , Pressure Build Up and
Modified Isochornal
MOTTO:
Api
takkan padam jika tak ada air, begitu ilmu bisa di capai jika usaha dan
permahaman
Ketenangan
berarti membuka jalan pikiran
Mak
api – api nyak bohaban juga, nonti nyak diunggak jak niku
Tong
sien ka masalah, diditu aya’kamenangan
KUPERSEMBAHKAN KEPADA
Kedua orang tuaku tercinta
Aak phanter,teh ecik,adek kia,yang ku cintai
Pembimbing dan staf pertamina EP tempat saya t.a
Dosen dan staf akamigas
Kawan-kawan seperjuangan
Dan orang
yang selalu mensupport saya
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran Allah SWT atas rahmat dan
karnia-Nya jualah penulis dapat menyelesaikan tugas akhirini dengan judul “ pengujian Produksi Suatu Sumur X dengan
menggunakan Metode pressure build up test dan modified isochornal Test “ yang disusun guna memenuhi syarat untuk
menyelesaikan program Diploma III pada program studi eksplorasi migas
politeknik akamigas palembang.
Di dalam penyusunan tugas akhir ini, penulis menyadari sepenuhnya masih
jauh dari sempurna, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun demi kesempurnaan tugas akhir ini.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya
kepada :
1.
Bapak H.Muchtar Luthfie, SH.,MM,
selaku direktur Politeknik Akamigas Palembang
2.
Ibu Ameliza Miarti,ST., selaku
Pembantu Direktur I Politeknik Akmigas Palembang
3.
Ibu Ana Asmina, ST, Selaku Ketua
Program Studi Teknik Eksplorsi Produksi Migas di Politeknik Akamigas Palembang
4.
Bapak Ir.Raam Krisna, Selaku
Pembimbing I dan membantu penulisan dalam menyelesaikan tugas akhir ini
5.
Bapak K. Moh Isnaeni, ST, selaku
pembimbing II yang telah membimbing dan membantu penulisan dalam penyelesaikan
tugas akhir ini.
6.
Seluruh staf dan karyawan di PT.
Pertamina EP Regio Sumatera
7.
Seluruh staf dan pegawai Politeknik
Akamigas Palembang
8.
Kedua orang tua yang selalu
mendoakan dan memberikan semangat dalam menyelesaikan tugas akhir
9.
Selalu rekan – rekan mahasiswa
Teknik Eksplorasi Produksi Migas angkatan III Yang bersama-sama memberi semngat
dan berjuang dalam menyelesaikan tugas akhir
10.
Dan pihak-pihak lain yang benar-
benar memberikan bantuan dalam menyelesaikan tugas akhir.
Akhir kata, semoga amal baik yang diberikan mendapatkan imbalan yang
sesuai dari Allah SWT. Semoga tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi penulis
sendiri dan bagi mahasiswa Politeknik Akamigas Palembang, khususnya bagi
Program Studi Teknik Eksploarsi Produksi Migas Politeknik Akamigas Palembang.
Palembang,
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...............................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN ...............................................................................ii
HALAMAN PERSETUJUAN TIM PENGUJI .................................................iii
ABSTRAK.............................................................................................................iv
ABSTRACT............................................................................................................v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN........................................................................vi
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI .................................................................vii
DAFTAR TABEL ................................................................................................xi
DAFTAR GAMBAR ...........................................................................................xii
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................xiii
BAB 1 PENDAHULUAN .....................................................................................1
1.1.Latar Belakang...........................................................................1
1.2.Batasan
Masalah .......................................................................2
1.3.Tujuan
Penelitian ......................................................................2
1.4.Manfaat Penelitian ....................................................................2
BAB II DASAR TEORI.........................................................................................3
2.1. Karakterisktik batuan reservoir...............................................3
2.2. IPR (inflow performance relationship).....................................7
2.3. Uji sumur ..................................................................................8
2.3.1.
pressure build Up Test ............................................10
2.3.2.Modified
isochornal Test..........................................13
2.4. Peralatan Penguji Sumur.........................................................16
2.5. Stimulasi
.................................................................................21
BAB III METODE PENELITIAN ....................................................................22
3.1. Tahapan
Penelitian ................................................................22
3.2. Tahapan
pengumpulan data dan pengolahan data................22
3.3. Tahap
Analisa dan Kesimpulan ............................................25
BAB IV HASIL PEMBAHASAN ......................................................................27
4.1. Data Pendukung Sumur X Lapangan Y.................................27
4.2.
Perhitungan Tekanan Alir dan Statik ....................................28
4.3.Perhitungan
PBU(Pressure Build Up)
Sumur X
Lapangan Y .............................................................31
4.4.
Perhitungan MIT (Modified Isochornal Test)
Sumur X
lapangan Y..............................................................34
BAB V PENUTUP................................................................................................39
5.1. Kesimpulan ............................................................................39
5.2. Saran ......................................................................................39
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................40
DAFTAR
TABEL
Tabel 2.1. Ukuran Porositas
4
Tabel 4.1. Tabel Pengukuran Tekanan Alir atau
Flowing dan Temperatur
29
Tabel 4.2. Tabel Pengukuran Tekanan Statik dan
Temperatur
30
Tabel 4.3. Data Sumur MIT
35
Tabel 4.4. Analisa Sumur MIT
36
Tabel 4.5. Kurva IPR AOFP
37
DAFTAR GAMBAR
2.1. Grafik Laju Alir Ideal Pressure Build Up..................................................10
2.2. Gambar grafik tekanan PBU
saat sumur tutup ..........................................11
2.3 Gambar Tekanan dan Aliran
pengujian MIT............................................14
2.4 EMR (Electrical Memory Recorder).........................................................16
2.5. Baterai Unit................................................................................................17
2.6. Wireline Unit..............................................................................................17
2.7. Drum Unit .................................................................................................18
2.8. BOP
STACK...............................................................................................18
2.9. Lubricator..................................................................................................19
2.10. Bean/Jepitan...............................................................................................20
3.1. Gambar Bangan Metode
Penelitian ..........................................................26
4.1. Grafik data sumur X Lapangan
Y .............................................................28
4.2. Grafik Tekanan Alir /
Flowing vs Kedalaman ..........................................29
4.3. Grafik Temperatur dan
Tekanan Alir vs Elapsed Time ...........................30
4.4. Grafik
Tekanan Statik vs Kedalaman .......................................................31
4.5. Grafik Temperatur dan
Tekanan Statik vs Elapsed Time .........................31
4.6. Grafik PBU sumur X Lapangan
Y ............................................................32
4.7. Grafik Modified Isochornal Test sumur X Lapangan Y ............................35
4.8. Grafik Pwf vs qg ( Kurva
IPR AOFP ).....................................................38
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN A
Data Program Pengukuran
Data Penampang Sumur
Contoh Laporan Pengukuran
LAMPIRAN B
Data Grafik PBU (Pressure Build Up)
Data Modified Ischornal Test
Data Typical Skin
LAMPIRAN C
Surat Konsultasi Tugas Akhir
Sertifikat Tugas Akhir
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Pengujian
sumur sangat berperan untuk dapat menentukan kemampuan reservoir berproduksi melalui sumur produksinya. Dengan
perencanaan, pelaksanaan, dan penganalisaan uji sumur yang benar dan tepat akan
menyediakan informasi seperti permeabilitas, faktor skin , efisiensi aliran,
dan AOFA.
Dengan data-data tersebut akan di
dapatkan nilai dan faktor skin (s). Dimana faktor skin ini menggambarkan
keadaan sumur yang mengalami perbaikan atau kerusakan. Jika ditemukan harga
dari faktor skin ini bernilai positif, maka dapat ditarik kesimpulan kalau
sumur mengalami kerusakan (damaged).
Dimana kerusakan ini biasanya terjadi karena di lubang sumur terdapat mud cake yang menutupi zona produksi
formasi. Akan tetapi apabila harga dari faktor skinnya bernilai negatif, dapat
disimpulkan bahwa sumur dalam keadaan perbaikan . Perbaikan ini dilakukan
dengan menggunakan cara stimulasi (pengasaman/acidizing)sehingga sumur dapat memproduksikan secara maksimal.
Dengan latar belakang diatas, di
dapatkan judul PENGUJIAN SUATU SUMUR X
LAPANGAN Y MENGGUNAKAN PENGUJIAN SUMUR PBU DAN MIT DI PERTAMINA EP REGION
SUMATERA agar kira nya dapat melihat keadaan dan kemampuan sumur
berproduksi
1.2. Pembatasan
Masalah
Pada tugas akhir ini dipusatkan pada
perumusan masalah yang akan dibahas dalam lubang sumur untuk memperkirakan
pengaruh yang terjadi pada sumur dan seberapa besar produksi sumur gas
tersebut. Selanjutnya dengan membatasi permasalahan tersebut dilakukan kegiatan
uji sumur dengan penguji pressure build
up (PBU) yang pada perhitungan tersebut akan menghasilkan nilai antara lain
: permeabilitas, faktor skin, efisiensi aliran. Dilanjutkan dengan pengujian
MIT (Modified isochornal Test) untuk
melihat batas produksi (AOFP) dari sumur X Lapangan Y. Dalam metode pengujian
PBU dilakukan menggunakan metode P2, dikarenakan pada Tekanan Alir
Dasar Sumur (pwf) memiliki tekanan metode MIT , sehingga dapat dilihat besar
produksi yang ada dalam sumur gas tersebut.
1.3. Tujuan
Penelitian
Tujuan tugas
akhir ini adalah dengan memperoleh informasi mengenai perkiraan kerusakan pada
sumur yakni dengan melihat permeabilitas, faktor skin, efisiensi,aliran, dan
melihat kemampuan sumur berproduksi berdasarkan nilai dari AOFP yang di dapat
1.4. Manfaat
Penelitian
Manfaat dari penulisan tugas akhir
ini untuk mendapatkan kondisi sumur tersebut hingga memperkirakan seberapa
besar sumur gas berproduksi dan mengatasi permasalahan yang ada pada sumur.
BAB
II
DASAR TEORI
2.1 Karakteristik Batuan Reserfoir
Batuan adalah kumpulan dari
mineral-mineral sedangkan suatu mineral dibentuk dari beberapa ikatan kimia.
Komposisi kimia dan jenis mineral yang menyusunnya akan menentukan jenis batuan
yang terbentuk. Batuan Reservoir adalah
wadah di bawah permukaan bumi yang mengandung minyak dan gas sedangkan bila
terisi air disebut aquifer. Pada
hakekatnya setiap batuan dapat bertindak sebagai batuan reservoir asal mempunyai kemampuan menyimpan dan menyalurkan minyak
bumi. Batuan reservoir mempunyai
karakteristik-karakteristik sebagai berikut :
a. Porositas
Didalam Reservoir , porositas dapat
menggambarkan persentase total ruang yang tersedia untuk ditempati oleh suatu
cairan atau gas. Sehingga dapat Porositas didefinisikan sebagai perbandingan
antara pori batuan dengan volume total batuan. Dimana dalam porositas ini
terdapat gambaran akan isi dari suatu cairan yang menempati ruangan. Ruangan
ini diselubungi oleh air yang ada di sekitarnya, sehingga dari volume pori-pori
dapat di bandingkan dengan volume batuan yang ada. Yang dirumuskan dalam :
Keterangan :
Berdasarkan
waktu dan cara terjadinya, maka porositas dapat juga diklasifikasikan menjadi
dua, yaitu :
1. Porositas
primer, yaitu porositas yang terbentuk pada waktu yang bersamaan dengan proses
pengendapan berlangsung.
2. Porositas
sekunder, yaitu porositas batuan yang terbentuk setelah proses pengendapan
Besar
kecilnya porositas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu ukuran butir, susunan
butir, sudut kemiringan dan
komposisi mineral pembentuk batuan. Untuk pegangan dilapangan, ukuran porositas
dapat dilihat pada tabel 2.1. berikut :
Tabel
2.1. Ukuran Porositas
|
Porositas
(%)
|
Kualitas
|
|
0-5
|
Diangga
jelek sekali
|
|
5-10
|
Dianggap jelek
|
|
10-15
|
Dianggap sedang
|
|
15-20
|
Dianggap baik
|
|
Diatas 20
|
Sangat baik
|
b. Permeabilitas
Permeabilitas
batuan di definisikan sebagai kemampuan batuan untuk mengalirkan fluida.
Semakin besar permeabilitas batuan semakin mudah fluida untuk mengalir melalui
batuan itu. Permeabilitas dilambangkan dengan symbol “k” dan dinyatakan dalam
satuan Darcy.
K=
.................................................................................................(2.2)
Tanda negatif dalam persamaaan
menunjukkan bahwa bila tekanan bertambah dalam satu arah, maka arah alirannya
berlawanan dengan arah pertambahan tekanan tersebut.
Keterangan
:
Q
= Laju alir Fluida,
/sec
K
= permeabilitas , Darcy
A=
luas penampang media alir, cm2
Besaran permeabilitas satu darcy
didefinisikan sebagai permeabilitas yang melewatkan fluida dengan viskositas 1 centipoises(cp) dengan kecepatan alir 1
cc/det melalui suatu penumpang dengan
luas 1 cm2 dengan penurunan tekanan 1atm/cm. Persamaan Darcy berlaku
pada kondisi seperti berikut : alirannya mantap (steady state)
1. Fluida yang mengalir satu fasa
2. Viskositas fluida yang mengalir konstan
3.
Kondisi aliran isothermal
4. Formasinya homogen dan arah alirannya
horizontal
5.
Fluidanya incompressible
Berdasarkan jumlah fasa yang
mengalir dalam batuan reservoir,
permeabilitas dibedakan menjadi tiga, yaitu :
1. Permeabilitas absolut (Kabs)
Yaitu
kemampuan batuan untuk melewatkan fluida dimana fluida yang mengalir melalui
media berpori tersebut hanya satu fasa atau disaturasi 100% fluida, misalnya
hanya minyak atau gas saja.
2. Permeabilitas efektif (Keff)
Yaitu kemampuan batuan untuk
melewatkan fluida dimana fluida yang mengalir lebih dari satu fasa, misalnya
(minyak dan air), (air dan gas), (gas dan minyak) atau ketiganya. Harga
permeabilitas efektif dinyatakan sebagai ko, kg, kw, dimana masing-masing untuk
minyak, gas dan air.
3. Permeabilitas relative (Krel)
Yaitu perbandingan antara permeabilitas
efektif pada kondisi saturasi tertentu terhadap permeabilitas absolut.
c. Saturasi
Saturasi adalah perbandingan antara
volume pori-pori batuan yang terisi fluida formasi tertentu terhadap total
volume pori-pori batuan yang terisi fluida atau jumlah kejenuhan fluida dalam
batuan reservoir per satuan volume pori. Oleh karena di dalam reservoir
terdapat tiga jenis fluida, maka saturasi dibagi menjadi tiga yaitu saturasi
air (Sw), saturasi minyak (So) dan saturasi gas (Sg), dimana secara matematis
dapat ditulis :
Total
saturasi fluida jika reservoir mengandung
3 jenis fluida :
Untuk
sistem air-minyak, maka persamaan (2.6) dapat di sederhanakan menjadi :
Beberapa
faktor yang mempengaruhi saturasi fluida reservoir
adalah :
1. Ukuran dan distribusi pori-pori batuan.
2. Ketinggian diatas free water level.
3.
adanya perbedaan tekanan kapiler.
Didalam kenyatannya, fluida reservoir tidak dapat diproduksi
semuanya. Hal ini disebabkan adanya saturasi minimum fluida yang tidak dapat di
produksi lagi atau disebut dengan irreducible
saturationsehingga berapa besarnya fluida yang diproduksi dapat di hitung
dalam bentuk saturasi dengan persamaan berikut :
Dimana:
St
= saturasi total fluida terproduksi
Swirr
= saturasi air tersisa (iireducible)
Sgirr
= saturasi gas tersisa (iireducible)
Soirr
+ saturasi minyak tersisa (iireducible)
2.2 Inflow Performance Relationship (IRP)
Inflow
Performance Relationship adalah suatu studi tentang diperlukan untuk
membuat grafik IPR adalah menuju produksi, tekanan alir sumur yang diperoleh
dari uji produksi dan tekanan statik dari uji tekanan. Yang dimana persamaannya
dengan tidak memperhitungkan adanya faktor skin (skin=0) adalah sebagai berikut
:
Keterangan
:
qsc :
Laju alir Produksi gas,Mmscf/d
C : Konstanta
Pwf : Tekanan dasar alir ,psia
Ps : Tekanan Statik, psia
2.3 UJI SUMUR
Suatu
pekerjaan yang didahulukan dengan pemboran pada zona produksi hingga selesai
dan telah melalu tahap penyelesaian, maka uji sumur pun dapat memonitor keadaan
sumur tersebut. Pada pengujian sumur ini bertujuan untuk mengetahui kinerja
dari sumur minyak ataupun gas. Sebelum melakukan pengujian sumur ini sendiri
harus menganalisa informasi sumur seperti informasi , gradient statik, tekanan pada perforasi temperatur formasi,
temperatur di permukaan, aliran fluida (gas, minyak atau air), tekanan alir ,
tekanan alir di kepala sumur , kedalaman sumur , produktivitas indeks. Yang
selanjutnya akan dilakukan pengujian awal hingga sumur tidak berproduksi lagi.
Adapun data yang akan di dapat dari pengujian ini seperti permeabilitas fluida,
tekanan reservoir, perbaikan formasi
atau kerusakan formasi batas reservoir,
potensi dan jenis fluida yang akan di dapatkan di dalam sumur.
Pada data uji sumur ini akan
menganalisa kemungkinan ada kerusakan pada sumur. Dengan pengujian ini , agar
kiranya dilakukan secara baik dan benar agar mendapatkan data yang akurat dan
tepat. Oleh karena itu pengujian ini dilakukan selama 24 jam per sumurnya.
Namun dikarenakan sesuatu hal , dan banyaknya sumur yang akan dilakukan
pengujian, maka biasanya dilaksanakan sebanya 4-8 jam. Dalam kegiatannya untuk
pengujian sumur umumnya untuk mengukur perubahan tekanan yang akan di dapatkan
hasil uji yang sangat penting seperti permabilitas formasi , tekanan reservoir
, hingga kerusakan atau perbaikan formasi disekelilingi lubang bor yang
diujikan.
Dalam pengujian sumur terdapat data
yang harus diketahui sebelum pengukuran lebih lanjut,yakni dengan mengetahui
pengukuran tekanan alir dan pengukuran tekanan statik, yang dimana dalam
pengukuran ini harus ada beberapa parameter penunjang seperti faktor koreksi,
defleksi, modulus element, sehingga dalam pengukuran dapat melihat kandungan
suatu sumur tersebut bisa berupa gas, minyak bahkan air. Adapun persamaan untuk
mengukur Tekanan Statik, Gradient Statik dan Tekanan Perforasinya (Temperatur
Perforasi) sebagai berikut :
·
Tekanan Statik=(Modulus Chart x
Defleksi)faktor koreksi+14,7psi.....(2.5)
·
Gradient statik@meter =(Pa-Pa-1)
/ (Da-Da-1) x 3,281 ft.........................(2.6)
·
Tekanan Perforasi = Tekanan Terakhir +
((Dperfo – Dakhir) x 3,281) x Gradient Statik kedalaman
terakhir........................................................(2.7)
Didalam
Gradient Tekanan terdapat ketentuan nilai dalam melihat kandungan sumur itu
yaitu sebagai berikut :
Gas : 0,04 - 0,13 psi/ft
Minyak
: 0,29 - 0,39 psi/ft
Air
: 0,24 - 0,45 psi/ft
2.3.1 Pressure Build Up ( PBU )
Pressure
Build Test adalah suatu teknik pengujian transient
tekanan yang paling di kenal dan banyak dilakukan orang. Pada dasarnya,
pengujian ini dilakukan pertama-tama dengan memproduksi sumur selama suatu
selang waktu tertentu dengan laju aliran yang tetap, kemudian menutup sumur
tersebut (biasanya dengan menutup kepala sumur di permukaan). Penutupan sumur
ini menyebabkan naiknya tekanan yang di catat sebagai fungsi waktu (tekanan
yang dicatat ini biasanya tekanan dasar sumur). Dari data tekanan yang di
dapat, kemudian dapat ditentukan permeabilitas formasi, daerah pengurasan pada
saat itu, adanya karakterisktik kerusakan atau perbaikan formasi, batas
reservoir suatu formasi, dan skin faktor.
Dasar analisa buildup pressure ini diajukan oleh metode Horner plot,yang pada
dasarnya adalah memplot tekanan terhadap suatu fungsi waktu. Tetapi sebelum
membicarakannya lebih lanjut, perlu kiranya kita mengetahui suatu prinsip yang
mendasari analisa ini yaitu yang terkanal dengan prinsip superposisi (superposition principle).

sumber :
Setiadi, bahan Ajar Politeknik Akamigas, 2011
Gambar
2.1 Grafik Laju Alir Ideal Pressure Build Up
Sumber : Setiadai Bahan Politeknik Akamigas 2011
Gambar
2.2 Grafik Tekanan Pbu Saat Sumur di Tutup
pada suatu produksi sumur yang
diperlihatkan, mula-mula sumur ini di produksikan dengan laju tetap, dan selama
waktu yang ditentukan. kemudian sumur pun ditutup selama selang waktu yang
diperhitungkan.pada pengujian ini jelas bahwa permaebilitas dapat ditentukan
dari slop m, sedangkan apabila garis ini diekstrapolasi ke harga Horner Time maka akan sama dengan ekivalen penutupan sumur
yang tak terhingga lamanya, maka tekanan pada saat ini teoritis sama dengan
tekanan awal reservoir tersebut.
pada sumur yang terdapat Skin yang
berharga positif berarti ada kerusakan (damaged)
yang pada umumnya dikarenakan adanya filtrat lumpur pemboran meresap kedalam
formasi atau endapan lumpur (mud cake )
di sekeliling lubang bor pada formasi produktif yang kita amati. dan apabila S
yang negatif menunjukan adanya perbaikan (stimulated),
biasanya setelah dilakukan pengasaman (acidizing)
atau suatu perbedaan hidraulic ( hudraulic
fracturing ). yang sangat memperngaruhi kinerja dari pengujian ini
merupakan Wellbore Storage tersebut
sangat tergantung kepada baik ukuran maupun konfigurasi lubang bor.Dimana
metode pada ini dipakai adalah
,
yang
mendasari sumur memiliki tekanan kurang dari 2000 psia.
Data-data yang diperoleh dari pengujian
pressure build up yakni :
a.
permeabilitas (k)
merupakan
kemampuan suatu fluida untuk mengalir,yang persamaan nya sebagai berikut :
k = 1673 x 10
qsc
m h
..............................................................................(2.8)
Keterangan :
Qsc :
Laju alir produksi gas , Mmscf/d
Z : Faktor deviasi
m : garis lurus dengan plot ( tp+dt)/dt,
psia/cycle
h : tebal lapisan , ft
b.
Faktor
Skin (s)
faktor
skin digunakan untuk mengetahui apakah formasi mengalami kerusakan atau tidak.
dimana apabila suatu faktor skin berharga positif (+) maka di indikasikan bahwa
adanya kerusakan dilapisa formasi, sedangkan apabila keadaan faktor skin
negative (-) maka di indikasihkan adanya perbaikan zona formasi. yang persamaannya sebagai berikut :
S = 1.151 
Keterangan :
S : Faktor Skin
P1 hr : Tekanan disaat
= 1 jam ,psia
Pwf
: Tekanan dasar air,psia
Ct : Total kompresibilitas, 
Rw :
Radius jari – jari sumur ,ft
c.
Kehilangan tekanan akibat skin (
P

pada perhitungan
hasil factor skin dapat dianalisa dengan menunjukkan adanya hambatan aliran.
hambatan aliran dianggap sebagai besarnya penurunan tekanan (
akibat adanya skin. secara matematis dapat
ditulis sebagai berikut :
( 
d.
Efesieni Aliran
Efesienaliran merupakan
rasio suatu produktivitas indeks pada suatu kondisi formasi reservoir terhadap
kondisi ideal pada saat di produksikan, sehingga dapat dituliskan persamaan nya
sebagai berikut :
keterangan :
P* :garis ekstrapolasi tekanan ke ( tp+
1
2.3.2.
Modifiet isochornal Test (MIT)
pada pengukuran sumur
gas yang digunakan dengan cara MIT (modified Isochornal Test). Dimana MIT merupakan
metode uji sumur yang memakai laju aliran secara buka tutp sumur. sebagai
berikut prosedur uji sumur menggunakan metode
MIT yakni dengan cara :
1.
Memproduksikan sumur secara bergantian
2.
pada selang waktu produksi yang sama
untuk periode yang aliran, begitu saat penutupan selang waktu produksinya sam.
3.
dalam setiap periode aliran dihitung
tekanan dasar alir (pwf) diukur, dan pada akhir periode penutupan, dihitung
tekanan statik dasar sumru nya.
4.
dan pada akhir test, sumur diprosuksikan
sehingga mencapai kondisi yang stabil, kemudian diukur tekanan alir dasar sumur
dan laju alir nya dimana periode ini disebut dengan extended flow period.
seperti hal nya pengujian pressure build up pada modifiet isochronal test ini melihat kemampuan suatu sumur untuk
memproduksikan ,akan tetapi pada MIT ini ditekan pada sumur yang berupa gas
setelah di identifikasi menggunakan gradient pada sumur yang berupa gas setelah di identifikasi menggunakan gardient flowing statik dan pressure build up test ( PBU test).

pada Modified Isochronal Test data – data yang akan diperoleh diantara
nya dari :a. kemiringan garis
lurus (n)
berdasarkan
grafik untuk melihat nilai dari q1,q2
dan
yang diaman rumus nya :
Keterangan :
Q1, q2 : laju air
yang dipilih sembarang, Mmscf/d
b. Menghitung nilai AOFP ( absolute open
flow potential )

Untuk C
merupakan konstanta dimana kondisi stabil
AOFP = C 
Dimana AOFP
merupakan batasan laju alir suatu sumur untuk memproduksi ( sumur gas alam ).
Keterangan :
C :
Konstanta
Ps :
Tekanan statik, psi
n : kemiringan
garis lurus
c. Kuva IPR sumur gas
Untuk melihat kemampuan lairan
fluida dan batasanya dengan melihat hasil AOFP, yakni dengan menggunakan
persamaan :
Keterangan :
C : konstanta
Ps : Tekanan statik
, psi
Pwf : Tekanan dasar alir
, psi
2.4
. Peralatan Pengujian Sumur
Dalam pengujian sumur terdapat alat
yang digunakan yang disebut dengan EMR (Electrical
Memory Recorde ). Alat tersebut digunakan untuk mengtahui Gauge dan
Temperature Gauge. pada prinsip nya EMR ini disusun menjadi satu
rangkaian dimana rangkaian tersebut dari :
1. EMR (
Electrical Memory Recorder)
Dimana alat ini berfungsi sebagai
penyimpanan dan penerimaan data-data yang ada didalam sumur.

2. Baterai Unit
dimana dalam alat ini digunakan
sebagai sumber tenaga yang dipasang pada rangkaian EMR

Merupakan
perangkat yang digunakan untuk melakukan pengujian tekanan sumur yang terdiri
dari beberapa peralatan wire yang
digunakan melalui drum unit terhubung sampai kepada sumur.

4. Drum Unit
Merupakan
gulungan wire untuk mengangkat peralatan yang akan digunakan
untuk mngukur tekanan sumur.

5. BOP
Stack
merupakan alat
pencegah terjadi semburan liar yang ada didalam sumur saat melakukan pengujian
sumur.

6. Lubricator
Merupakan tempat masuk rangkaian EMR untuk dilakukan
pengujian sumur. 

7.
Bean atau Jepitan
Adalah analisa mengenai kehilangan
tekanan pada aliran fluida melalui pipa
yang diameter diperkecil pada suatu tempat, dan akan meluas kembali sperti
semula setelah melewati bean. fungsi
bean/jepitan adalah untuk menetukan besarnya laju produksi suatu sumur dan
akibat perubahan diameter bean akan berpengaruh terhadap besar kecilnya tekanan
alir dasar sumur (Pwf) dan tekanan tubing (Pt). fungsi bean/jepitan adalah :
mengatur laju produksi yang diinginkan (BPD), untuk mencegah masuk nya pasir
kedalam sumur, mencegah terjadinya gas/ water coning,memproduksi pada laju yang
optimum. Adapun choke yang dipakai pada bean Performance sebagai
berikut:
a) Positive choke
Positive Choke
dibuat dari besi baja pejal, dimana bagian dlamnya terdapat lubang ( orifice)
dengan diameter tertentu untuk mengalirkan fluida ke seperator. ukuran Choke
dinyatakan per 64” (/64”), bila sumur migas menggunakan single wing, ,maka
mengganti choke cumur harus harus ditutup ( shut-in),
maka arah aliran dapat dirubah.
b. Adjustable
Choke .
Adjustable choke merupakan katup jarum yang
mempunyai adjustable seat dan jaraum serta dilengkapi dengan skala
bukaan. Diameter choek dapat diatur sesuai tekanan dan laju aliran. merubah
besar kecilnya diameter choke dapat
dilakukan tanpa membongkar choke holder,
besar kecilnya ukuran choke dapat dicari dengan 2 (dua) cara : dengan
perhitungan atau rumus gilbert.

2.5.
Stimulasi sumur
merupakan
penginjeksikan sejumlah bahan kimia keddalam lubang sumur atau sampai ke batuan
atau sampai diatas tekanan rekah batuan. pada stimulasi ini dilakukan apabila
pada suatu sumur terdapat kerusakan formasi atau formation damage di sekitar lubang bor pada lapisan produktif.
adapun hal yang dapat menyebabkan kerusakan formasi seperti :
a. Kesalahan pada saat pemboran
Pada saat pemboraan kerusakan formasi terjadi
apabila pada pemboran pemakaian lumpur terlalu berat atau ringan dan saat
pencabutan rangkaian mengakibatkan efek
swab.
b. Karakteristik Reservoir
Dalam karateristik reservoir kerusakan formasi sendiri dapat
diakibatkan oleh adanya fluida yang bersifat scale, parafinic, aspaltic,emulsi
c. pada saat produksi
dalam rate produksi kerusakan
formasi juga dapat terjadi dimana kerusakan ini terjadi akibat rate produksi
nya telah melewatinya titik ktitis pada sumur.
sehingga untuk mencegah nya terjadi
kerusakan formasi yang di akibatkan dari 3 faktor diatas maka dilakukan
stimulasi pada sumur . dalam stimulasi sendiri dapat dibedakan menjadi 3 bagian
yakni : Well Treatment,
Acidizing,Hydraulic Fracturing.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
Dalam penelitian tugas akhir yang
berjudul” Pengujian suatu Sumur X Lapangan Y Dengan Metode Pressure Build UP Test dan Modified Isochornal Test dipertamina EP
Region Sumatera “ disusun menggunakan penelitian sebagai berikut :
3.1 Tahapan Persiapan
Merupakan tahapan mengumpulkan
informasi awal untuk identifikasi,perumusan,dan penentuan tujuan untuk mencegah
masalah denganpertimbangan pengetahuan
berdasarkan literatur yang ada.
3.2 Tahapan Pengumpulkan data pengolahan data
pada tahap pengumpulan data dan
pengolahan data dilakukan untuk mendapatkan bahan penelitian yang sesuai dengan
tujuan penelitian yang telah ditetapkan.
1. Teknik Pengumpulan data
semua data yang dibutuhkan dalam
penulisan tugas akhir ini diperoleh dari
data-data perusahaan khususnya data sumur,produksi,prosedur kerja dan
gambar-gambar lapangan dipertamina EP Refion Sumatera
a. Wawancara
Yakni dengan betanya langsung kepada
pengawas lapangan,pebimbing lapangan dan pihak –pihak yang terkait dengan judul
tugas akhir yang telah diambi.
b. Studi pustaka
Yaitu melihat literatul dan mencari
referensi yang berhubungan dengantugas akhir.
c. data sekunder
Merupakan data yang diperlukan dalam
penulisan tugas akhir yang berupa data produksi, reservoir dan data-data sumur
yang berkaitan dengan tugas akhir seperti porositas, permaebilitas,
kompresibilitas total,viskositas,jari-jari sumur , laju produksi, dan faktor
volume formasi ,dll.
2. pengolahan data
Data yang terkumpul yang berupa data
sekunder, selanjutnya akan di perhitungan menggunakan metode Pressure Build Up Test ( metode
) dan Modified Isochornal Test . Dengan menghitung menggunakan metode tersebut akan
di dapat pengaruh sumur kemampuan produksi gas yang ada di sumur X Lapangan Y.
Adapun tahapan yang dilakukan sebagai berikut :
a. Menghitung Gradient tekanan Alir (
Flowing), statik, dan temperature,
Dimana hasil dari perhitungan dan
menganalisa gradient tekanan alir, statik dan temperatur akan memperjelaskan
bahwa sumur tersebut mengandung minyak atau gas hingga air, yang ditunjukkan
dengan nilai gradient yang di dapat.
b. Menghitung (tp+dt)/dt
Nilai (tp+dt)/dt didapat dari tabel
data uji dari tekanan dasar sumur (pw
) dn waktu penutupan (dt) dengan waktu produksinya (tp =
13800 jam )
c. Membuat Grafik Horner Plot
Pada data horner time tekanan dasar
sumur dapat dibuat grafik horner plot
yakni dengan membandingkan nilai dari Pw
vs (tp+dt)/dt. dengan mengekstrapolasikan
garis lurus (slope =1 ) pada data pw
vs (tp+dt)/dt maka akan didapatkan Tekanan
Reservoir (P*). Pada ekstrapolasi akan didapat p1 jam yakni diperoleh saat keadaan dt =1, dari grafik horner plot juga dapat diketahui nilai
Slope ( m). Slope m di dapat dengan cara membuat dua garis yang mengenai
ekstrapolasi yang dibuat dengan menarik garis lurus dari horner time pada 1 cycle dan
dihitung selisihnya.
d. Perhitungan permeabilitas (k)
Harga permeabilitas akan didapat
dengan menghitung menggunakan persamaan (2.8)
e. Perhitungan Faktor Skin (S) dan
Penurunan Tekanan (
)
Skin di hitung menggunakan persamaan
(2.9) dimana setelah itu, dapat dihitung penurunan tekanan akibat skin dengan
persamaan (2.10)
f. Persamaan Efisiensi Aliran (FE)
Nilai dati efesien aliran dapat di
hitung menggunakan persmaan (2.11)
g. Menghitung Modified isochornal Test (MIT)
Menghitung metode kali ini dipakai
metode perhitungan deliverability sumur gas berdasarkan data uji Modified Isochornal yang dilengkapi dengan satu uji alir yang
diperpanjang. sehingga dapat memperjelaskan cara perhitungan yang akan
didapatkan dan menghitung nilai nilai seperti :
a. Kemiringan garis lurus (n) dengan
persamaan (2.13)
b. Menghitung besar Konstanta aliran (C)
dan AOFP yang persamaan dihitung pada (2.14) dan (2.15) dimana AOFP ini
sebaqgai kemampuan produksi suatu sumur (sumur gas )
c. Kurva IPR menggunakan persamaan (2.16)
d. Setelah menghitung MIT maka akan
didapatkan besarnya produksi gas yang ada disumur X Lapangan Y
3.3. Tahapan Analisa dan Kesimpulan
Pada tahap akhir, Penganalisaan dan
kesimpulan akan dilihat dari hasil data-data yang telah di dapat selama
melakukan perhitungan pada sumur X Lapangan Y

BAB IV
HASIL PEMBAHASAN
Pada bagian ini akan dibahas
mengenai hasil dari penelitian yang akan dilakukan untuk dapat menentukan
karakteristik sumur antaralain gradient statik pada pengukuran tekanan flowing (alir). Pada pengukuran tekanan statik
digunakan untuk menentukan isi sumur berupa gas atau minyak, sedangkan dalam
untuk menggunakan PBU (Pressure Build Up
Test ) akan didapatkan nilai dari permeabilitas,faktor skin,penurunan
tekanan akibat skin dan efisien aliran. Sehingga untuk melihat kemampuan
maksimal sumur berproduksi ditunjukkan dengan AOFP yang menggunakan metode MIT
(modified Isochornal Test ).
4.1 Data Pendukung Analisa Sumur X Lapangan
Y
Sebelum melakukan perhitungan adapun
data-data yang perlu di siapkan pada kegiatan Sumur X Lapangan Y.
Tebal Lapisan
(h) :
26,3857 ft
Spesipic Gravity
(Sg) :
0,7476
Porositas (
) :
0,25
Faktor Volume
Formasi (Bg) :
0,01573 
Viskositas (
) :
0,01328 cp
Kompresibilitas
Total (Ct) : 0,00013 
Laju Produksi
Gas (qg) :
5,78 Mmscfd
Jari-jari sumur
(rw) :
0,3 ft
Faktor Deviasi
gas (Z) :
0,91089
Waktu produksi sebelum sumur
ditutup (tp) : 13800 jam
Setelah data-data sumur didapatkan
dengan pengujian, selanjutnya hasil rekaman pengujian dirangkum dan dimasukkan
kedalam tabel yang akan dibuat garfik sesuai dengan hasil pengujian yang di
dapatkan seperti yang terlihat pada (gambrar 4.1) Dimana pada gambar tersebut
akan diperjelaskan tentang informasi bagian mana yang akan di analisakan
terlebih dahulu atau dengan kata lain kita dapat memulai program perhitungan
sesuai dengan grafiknya, dimana pada grafik akan terlihat perbedaan yang
menandakan Tekanan Flowing PBU ( Pressure
Build Up), Tekanan statik, lalu MIT ( Modified
isochornal Test ) dan Temperatur sesuai dengan anak panah yang tertera pada
gambar 4.1.

Gambar 4.1 Grafik data Sumur X
Lapangan Y
4.2.
Perhitungan Pengukuran Tekanan Alir
dan Statik
Untuk mendapatkan gradient tekanan
akan didapat dari persamaan (2.5) sampai ke (2.6) Kemudian untuk menghitung
tekanan dan temperatur perforasi dilubang sumur, maka digunakan persamaan
(2.7). Berikut hasil perhitungan Tekanan Alir/Flowing beserta temperatur yang
ditunjukkan pada (Tabel 4.1). Dari hasil tabel yang telah didapatkan, maka
dilakukan pembuatan grafik antara tekanan alir vs kedalaman ( Gambar 4.2)
dimana menendakan valve berapa dan pada kedalaman berapa akan bekerja, yang
sebagaimana valve tersebut telah di pasang sesuai dengan kedalaman.
4.1. Tabel pengukuran Tekanan Alir/ Flowing
dan Temperatur
|
DALAM
|
TEKANAN
|
TEMP.
|
Gradient Tekanan
|
Gradient Temperature
|
|
UKUR
|
(psia)
|
(
|
Psi/ft
|
(
|
|
(m)
|
||||
|
TVD
|
||||
|
0
|
864,35
|
96,65
|
-
|
-
|
|
100
|
874,29
|
155,50
|
0,030280402
|
0,179381286
|
|
200
|
883,29
|
158,15
|
0,027832978
|
0,00807071
|
|
299
|
892,60
|
160,80
|
0,028160125
|
0,008131194
|
|
397
|
901,43
|
163,28
|
0,02766379
|
0,007776818
|
|
489
|
910,14
|
165,49
|
0,028742458
|
0,007276363
|
|
578
|
918,89
|
167,28
|
0,029942884
|
0,006124836
|
|
666
|
927,45
|
168,72
|
0,029524512
|
0,004969028
|
|
755
|
936,23
|
169,82
|
0,03013335
|
0,003793681
|
|
Perforasi
|
|
|
||
|
795
|
940,12
|
170,31
|
||


Dengan
hasil perhitungan pada gradient statik akan didapat kandungan sumur tersebut,
dan pada sumur X merupakan produksi sumur gas. Dimana nilai dari ketentuan Gas
sebesar 0,04-0,013psi/ft dan
Minyak sebesar 0,29-0,39 psi/ft. Dengan hasil pada sumr X sebesar
0,0222 psi/ft yang memiliki tekanan statik
sebesar 965,52 psia, maka sumur X
meupakan sumur gas seperti di tunjukkan pada (Tabel4.2).



4.3.
Perhitungan Pressure Build Up Test Sumur X Lpangan Y
Dalam hal ini, dilakukan memplot data (data terlampir )
dari hasil antara
vs (tp+dt)/dt pada grafik log yang ditunjukkan pada (gambar 4.6)
Dalam
perhitungan PBU tersebut akan di dapatkan hasil seperti
permeabilitas, skin,penurunan tekanan terhadap skin,aliran ,efisiensi, dan
produktifitas indeks.

Dari grafik PBU diatas,
ekstrapolasikan garis lurus sampai memotong log (tp+dt)/dt = , dan akan
didapatkan nilai dari p* sebesar 945 x
.
Dari garis ekstrapolasi ini di dapat
yaitu tekanan pada saat dt = 1 sebesar 934 x
yang
didapat dengan ekstrapolasikan dt = 1 jam . setalah itu, slope (m) akan
didapatkan dengan cara mencari nilai dari kemiringan dari hasil ektrapolasi,
yang dimana perbandingan antara y dan x ( untuk mencari slopem), dimana pada y bernilai 937, dan untuk x bernilai 934, yang
kemudian diselisihkan untuk mendapatkan nilai kemiringan (m) : y-x = 937-934=
3x
/cycle,
1. Menghitung
Permeabilitas (k)
Dalam perhitungan harga permeabilitas ada data analisa yang telah diperlukan:
qg :
5,78 Mmscf/d
T :
170 
Viskositas (
) : 0,01328 cp
Play
Zone :
26,3857 m x 3,218 = 86,57148 ft
Faktor
Deviasi gas (Z) :
0,91089
Dari
data-data tersebut dapat ditentukan harga dari permeabilitasnya dengan
menggunakan persamaan (2.8)
k=
=

=
0,277642 mD
2. Menghitung
Faktor Skin (S)
Data
analisa yang diperlukan untuk menghitung harga skin ( S ) adalah sebagai
berikut :
P1hour
Pwf
(data awal di PBU :
934 x 
Porositas
(
: 0,25
Kompresibilitas
Total ( Ct ) : 0,00013 
Rw
:
0,3 ft
Dari
data-data tersebut dapat diketahui harga faktor skin ( S ) dengan menggunakan
persamaan (2.9 ):
S= 1,151
]
S=1.151
S= 17,80018
3. Menghitungkan
Penurunan Tekanan dan Efisien Aliran
Hasil perhitungan faktor skin memperoleh nilai
positif, sehingga pada sumur X Lapangan Y menunjukkan adanya kerusakan di
sekitar lubang sumur pada formasi produktif. untuk itu diperlukan mengukur agar
dapat mempekirakan seberapa besar dampak skin dalam penurunan tekanan yang
dapat dihitung menggunakan persamaan (2.10)
(
= 0,869(3000)(17,80018)
= 46458,47796
(
= 
= 215,5423 psia
Dari perhitungan tersebut ,nilai
dari penurunan tekana yang terkena skin sebesar 239,7364 psia. untuk melihat
nilai efisiensi dari aliran (FE) disumur tersebut dapat menggunakan persamaan
(2.11):
FE
= 
= 
= -2,15732 psia
4.4. Menghitung
Modified Isochornal Test (MIT) di
sumur X Lapangan Y
sebelum menghitung nilai dari MIT
harus di siapkan data sumur yang telah dilakukan seperti contoh di (Tabel 4.4)
lalu di grafikkan seperti (graik 4.7)

Setelah mendapatkan
data sumurnya, dilakukanlah analisa yang akan disajikan dalam bentuk tabel
untuk mempermudah plot antara Qsc terhadap
, seperti tabel 4.4
berikut:
dengan
mendapatkan analisa sumur, maka dapat dimulai untuk menghitung MIT dengan
langkah awal seperti:
a. Menghitung kemiringan garis lurus (n)
dimana nilai dari q1,q2 dan
dengan sembarangan nilai.
n =
n= (LOG(5,21)-(LOG(4,4)/(LOG(43211,51656))-
(LOG(19862,55517))
= 0,217396
b.
menghitung nilai AOFP (absolute open flow potential)
pada nilai qext dan
ext yang didapat pada
(Tabel4.5) merupakan aliran konstanta yang diperpanjangan sampai dengan
penutupan sumur tersebut. kemudian dimasukkan pada pada perhitungan mencari
nilai dari AOFP. dengan mendapatkan nilai dari AOFP tersbut dapat terlihat
kemampuan sumur gas terproduksika, akan tetapi sebelummelakukan perhitungan
pada AOFP pertama harus didapatnilai C( konstanta dengan menggunakan persamaan
(2.13). sehingga nilai dari AOFP akan di dapatkan
C
= 
=
0,427344
Lalu dilanjutkan dengan menghitung AOFP dengan
menggunakkan persamaan (2,14)
AOFP = C 
AOFP
= 0,427344 (965,296
= 8,48 Mmscf/d
Dimana dalam produksi
sumur nilai AOFP ini dikalikan sebesar 30%.
c.
Kurva IPR
Untuk melihat kemampuan aliran
fluidanya adaanya dimana titik AOFP (sebagai qmaxnya) berada, dilakukanlah
pembuatan kurva IPR yang menggunakan persamaan (2.15) dengan mengamsumsi kan
pwf dan menghitung nilai qscnya yang dirangkum dalam tabel 4.5
Setelah mendapatkan data Kurva IPR dilakukan
pembuatan grafik yang hasil plotnya dari Pwf vs Qg yang ditunjukan pada (gambar
4.8)
Dengan
ditunjukan grafik IPR tersebut akan terlihat performance sumur yang berproduksi sebesar 8,48 Mmscfd

BAB
V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
1.
Pada metode Pressure Uild Up Test dilakukan menggunakan metode 
dikarenakan sumur tersebut terdapat
tekanan yang dibawah 2000 psia
2. Pada Pressure Build Up Test yang
dilakukan akan terlihat bahwa pada sumur X Lapangan Y :
permeabilitas : 0,277642 mD
Skin :
2,504391
Pengaruh Tekanan pada Skin : 6,53646 psia
Aliran Efisiensi : 0,905269 Psia
Produktivitas Indeks : 0,084863
3.
dengan bernilai skin positif
menunjukkan akan sumur adanya kerusakan (damaged)
dimana disekitar sumur pada sumurnya terdapat mud cake atau filtrate lumpur
yang meresap ke zona formasi dimana harus dilakukan stimulasi
(pengasaman/acidizing).
4. Pada metode Modified Isochornal Test mendapatkan nilai AOFP sebesar 8,48
Mmscf/d yang menunjukkan sumur ini berproduksi
5.5. Saran
1.
pada skin yang bernilai positif
dianjurkan dilakukan stimulasi dengan pengasaman /adicizing sehingga sumur dapat berproduksi secara optimal.
DAFTAR
PUSTAKA
Bahan
ajar. 2010.Zinnun Sulisa,Karakteristik Reservoir dan Karakteristik Fluida
Reservoir.Politeknik Akamigas Palembang
Bahan
Ajar.2011 Unggul Setiadi,Well Test, Pressure
Build Up Dan Midified Isichornal Test.
Politeknik Akamigas Palembang
Bahan
Ajar,2011.Moh.yan,Teknik Produksi,Srtimulasi .Politeknik Akamigas Palembang
Handkook.
Pressure Transient Of Gas Wells
Lee,Jhon,1990.Well
test analysis,Modified Isochornal Test, Modification
for gases.
Pedoman
PERTAMINA,2003 Teknik Reservoir, Judul : Uji Delivarability Gas, Sub Judul :
Perhitungan Deliverability Sumur Gas
Pedoman
PERTAMINA, 2003 Teknik Reservoir, Judul :Uji Sumur Well Test), Sub Judul :
Analisa Hasil Uji Sumur Gas
W.Lake.
Larry.2006. Petroleum Engineering Handbook_Volume V
Langganan:
Postingan (Atom)